Sabtu, 01 November 2008

Open Source Software

Dalam beberapa artikel sebelum ini, saya sudah menyebut-nyebut Open-Source Software. Makhluk apa lagi itu?

Cukup sulit menjabarkan Open Source Software (OSS) dalam satu artikel pendek, tetapi singkatnya OSS adalah program dan sofware dimana kode program yang dapat dibaca manusia (source code, bukan machine code) dapat diperoleh , boleh dipakai, dan boleh dimodifikasi dengan bebas sesuai dengan aturan open-source. Semua OSS adalah Freeware, sehingga sering juga disebut FLOSS (Free/Libre/Open Source Software) untuk membedakan dengan Shared-Source, istilah yang diluncurkan oleh Microsoft untuk menandingi FLOSS, dimana source code boleh dilihat siapa saja, tetapi tidak dapat diubah atau diperbanyak dengan bebas.

Software-software FLOSS boleh diperbanyak, dipakai dan diubah siapa saja dengan gratis-tis-tis-tis. Paling banter Anda akan dikenai biaya penggandaan dan ongkos kirim yang tak seberapa dibanding harga sofware komersial.
Contoh paling populer adalah Operating System Linux. Linux dapat Anda peroleh hanya dengan harga sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- saja (bahkan Canonical bersedia mengirim CD Ubuntu Linux sampai rumah Anda dengan gratis, meski agak lama. Anda dapat memesannya di http://shipit.ubuntu.com). Bandingkan dengan Operating System Windows XP Home (versi Windows yang paling populer dijual saat ini, meski sudah diskontinyu) yang dibandrol sekitar Rp 850.000,-. Untuk Windows Vista Anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin software dengan kemampuan sebagus itu bisa gratis? (atau sebaliknya, bagaimana mungkin software gratis bisa bagus?) Jawabannya berada pada filosofi FLOSS sendiri, yaitu saling berbagi manfaat. Setelah mendapat manfaat dari sebuah program FLOSS, Anda diharapkan turut menyumbangkan sesuatu kembali padanya.

FLOSS tidak dibuat oleh sebuah perusahaan komersil yang berorientasi laba, melainkan dibuat oleh sebuah komunitas (bisa juga diwadahi oleh sebuah perusahaan) yang anggotanya saling menyumbangkan kemampuannya dalam membuat program atau bagian dari program. Karena source code tersedia dengan bebas, semua orang yang menghendaki boleh mendownload, lalu memperbaiki dan mengembalikan kode yang sudah diperbaikinya pada koordinator software. Dengan begitu software dapat berkembang dengan cepat dan jika satu programmer membuat kesalahan, orang lain dapat melihat kesalahan itu dan segera memperbaikinya.
Sebagian besar programmer bergabung dengan komunitas FLOSS karena dimotivasi oleh "bragging right" atau "hak menyombongkan diri", dimana nama mereka akan tercantum dalam setiap kopi software tersebut, dan itu akan menjadi resume yang sangat kuat saat menawarkan jasa mereka secara komersil.
Kini bahkan banyak perusahaan besar yang bersedia mensponsori pembuatan software Open-source, seperti Sun dan IBM. Sun terkenal dengan software Java yang mungkin saja sudah ada dalam ponsel di genggaman Anda. IBM baru-baru ini me-release Lotus Simphony yang merupakan paket Office (word processor, spreadsheet, presentation). Java dan Lotus Simphony semuanya adalah FLOSS.
Dengan adanya perusahaan sponsor, para programmer FLOSS akan digaji oleh perusahaan tersebut sehingga mereka tidak lagi bekerja dengan gratis, tetapi bagi Anda software itu sendiri tetap gratis. Perusahaan sponsor lalu berhak mengklaim software tersebut sebagai produknya, lalu menawarkan jasa untuk support atau menjual versi Business edition yang lebih canggih lagi.

Model bisnis FLOSS cukup unik, yaitu biasanya software tersebut gratis, tetapi jika Anda membutuhkan support, konsultasi atau modifikasi, Anda dapat mencari programmer atau perusahaan yang menyediakan jasa tersebut, dan karena tidak bisa dimonopoli oleh satu vendor saja, harganya cukup bersaing.
Dilihat dari segi manapun, pengguna atau customer banyak diuntungkan oleh FLOSS. Tetapi tentu saja FLOSS punya beberapa kelemahan juga. Antara lain begitu banyaknya versi software karena begitu banyaknya orang yang memiliki pandangan berbeda untuk software itu. Linux memiliki banyak distro seperti Mandriva, Knoppix, Fedora, Ubuntu, Gentoo, OpenSuSe, DSL, dsb masing-masing dengan keunggulan dan penggunaan tersendiri (bahkan Ubuntu saja memiliki berbagai varian seperti Kubuntu, Xubuntu dan Edubuntu, belum lagi versi 32 atau 64 bit, desktop dan server edition, dsb). Lalu juga sebagian FLOSS tidak memiliki support oleh sebuah perusahaan besar, melainkan oleh sebuah komunitas, sesuatu yang mungkin tidak sesuai dengan beberapa pihak yang mengutamakan reliability.

Saya sendiri telah mendapatkan banyak program FLOSS untuk menggantikan software komersil yang dahulu saya pakai. GnuCash dan GIMP menggantikan Quicken dan PhotoShop (secara professional, keduanya masih bukan tandingan, tapi bagi pengguna perseorangan sudah sangat mencukupi). MS-Office diganti Open-office, Outlook diganti Thunderbird, Internet Explorer diganti Firefox, WinZip dan WinRar diganti 7-zip, dsb.
Ini belum menyebut TrueCrypt (program enkripsi), Pidgin (chat), PDF Creator (print dokumen ke format PDF), Audacity (audio editor), Warzone 2100 (game RTS), Tremolous (game FPS), dll.
Saya juga telah mengganti beberapa sistem klien saya dari MS-SQL menjadi MySQL yang FLOSS.

Saat ini ada ribuan proyek FLOSS dalam berbagai tahap penyelesaian dan popularitas. Jika Anda ingin melihat betapa banyaknya proyek FLOSS, silakan berkunjung ke http://sourceforge.net , gudangnya FLOSS. Siapa tahu Anda dapat memperoleh software yang selama ini Anda butuhkan disana, gratisssss!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar