Sabtu, 08 November 2008

Stabilizer

Ini kisah nyata: seorang rekan yang menjadi tenaga maintenance pada sebuah perusahaan besar bercerita tentang stabilizer yang ditemuinya. Setelah menerima komplain dari suatu departemen, rekan tersebut mendapati dua CPU komputer mengalami kerusakan parah, mainboard, harddisk dan power supply rusak dan harus diganti. Selain mengganti komponen yang rusak, dia lalu berusaha mencari penyebab kerusakan agar kejadian serupa tak terulang. Dari pengamatan dan wawancara dengan pemakai komputer, ia mencurigai kerusakan parah itu akibat fluktuasi atau naik-turunnya tegangan listrik jaringan. Namun CPU-CPU tersebut sudah dilindungi masing-masing dengan sebuah stabilizer yang baru beberapa bulan dibeli.
Penasaran, ia membongkar kedua stabilizer tersebut,
dan apa yang dijumpainya dalam stabilizer tersebut membuatnya tertegun. Didalam box logam stabilizer hanya ada kabel-kabel, saklar, lampu dan voltmeter. Tidak ada komponen elektronik apapun didalam box, dan agar box menjadi berat, ada sebuah batu bata(!) diikat dengan plastik cable-ties. Tentu saja CPU rusak, karena stabilizer itu sama sekali tak ada gunanya.
Dari catatan pembelian, diketahui bahwa meski cukup murah, stabilizer gadungan itu juga masih memiliki kisaran harga yang wajar untuk stabilizer normal.

Stabilizer, sesuai namanya, berfungsi untuk menstabilkan tegangan listrik output meskipun tegangan input berubah. Dengan semakin parahnya krisis listrik di negara ini, tegangan jaringan PLN terkadang tidak lagi memenuhi syarat. Untuk itu penggunaan stabilizer sangat diperlukan terutama bagi peralatan yang peka dengan fluktuasi tegangan listrik seperti komputer.
Ada dua jenis stabilizer yang paling populer, relay dan servo motor. Jenis relay akan berbunyi "klik-klik" jika tegangan input berubah. Bunyi itu adalah bunyi relay yang berpindah kontak untuk menyeimbangkan tegangan output.
Jenis relay umumnya lebih murah, dan bereaksi lebih cepat dibanding dengan jenis motor, tetapi ia akan menaikkan atau menurunkan tegangan dalam step-step yang agak besar, dan fluktuasi tegangan input yang masih ditoleransi juga relatif lebih kecil.
Sementara jenis motor ditandai dengan bunyi "whiiirrr" jika tegangan input berubah, yang ditimbulkan oleh motor dan gesekan carbon-brush pada kumparan trafo untuk menyesuaikan tegangan output. Jenis ini reaksinya sedikit lebih lambat namun ia mampu menghasilkan tegangan output yang lebih tepat. Jenis ini harganya lebih mahal dibanding tipe relay.

Jika stabilizer Anda sama sekali tak pernah berbunyi meski tegangan PLN naik-turun, pastikan Anda tidak memiliki stabilizer palsu seperti rekan saya diatas.

Saat ini terdapat banyak sekali merk dan jenis stabilizer yang dapat Anda pilih, namun pastikan kapasitas stabilizer mencukupi untuk beban yang akan dipasang. Satu komputer desktop + monitor CRT 15" umumnya memerlukan 500VA, bisa lebih untuk komputer high-end dengan graphic card gaming dan monitor CRT besar.
Beberapa jenis printer, scanner, monitor LCD dan laptop tidak terlalu memerlukan stabilizer karena AC adapter mereka mampu bekerja dari 100 - 240V (baca stiker pada adapter untuk memastikan).
Jika ada dana lebih, tak ada salahnya untuk membeli UPS (Uninterruptible Power Supply) yang memiliki batere internal dan akan dengan cepat berpindah ke batere jika listrik padam, sehingga Anda punya waktu sekian menit untuk menyimpan pekerjaan dan mematikan komputer secara normal. Pastikan UPS itu juga memiliki stabilizer, karena ada juga UPS yang tidak menstabilkan tegangan selama menggunakan tegangan jaringan/PLN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar