Sabtu, 26 September 2009

Good computing practice 2: Software Update

"Your computer might be at risk: Automatic Update is turned off."

Jika Anda menggunakan OS Microsoft Windows, bisa jadi Anda pernah menemui pesan seperti diatas. Apa itu Automatic Update, atau lebih tepatnya, apa itu Update?



Saat sebuah software di-release, pembuatnya tentu sudah memastikan bahwa software buatannya berjalan baik dan aman. Namun seiring berjalannya waktu, seringkali ditemukan kesalahan atau celah keamanan yang tadinya tidak diketahui yang berpotensi menimbulkan masalah jika tidak diperbaiki. Menarik seluruh produk lalu menggantinya dengan yang baru tentu tidak feasible, apalagi jika jumlahnya sudah diatas puluhan ribu unit.
Menyempurnakan software sampai betul-betul aman sebelum release juga tidak mungkin. Seperti halnya membuat mobil, rasanya tidak mungkin membuat mobil yang tidak bisa dibobol pencuri untuk selamanya, bukan? Tak perduli secanggih apapun alarm mobilnya, setelah beberapa lama selalu ada maling yang bisa mengakalinya. Bahkan lemari besi yang paling mahal sekalipun pasti ada kelemahannya, meskipun mungkin hanya sedikit yang tahu dan sangat-sangat sukar dieksploitasi.

Untuk mengatasi kelemahan yang ditemukan sesudah software di-release, pembuat software mengeluarkan apa yang disebut Update. Gunanya untuk memperbaiki kesalahan atau menutup celah keamanan itu.
Dahulu Update (kadang disebut juga patch) didistribusikan dalam bentuk pita kaset atau floppy disk, lalu berubah ke CD-ROM. Kini dengan semakin merakyatnya internet, hampir semua software update didistribusikan melalui internet.
Bahkan beberapa software akan melakukan update secara otomatis tanpa perlu campur tangan pemiliknya. Setting default bagi Windows Update adalah "Automatic" (Bagi saya pribadi, akan lebih "sopan" jika software meminta izin terlebih dahulu sebelum mendownload / menginstall update, sehingga saya mengatur Windows Update ke "Notify me but don't automatically download or install them").
Software Update sangatlah penting untuk menutup berbagai celah keamanan yang berpotensi disalah-gunakan pihak-pihak tak bertanggungjawab. Dengan meng-Update semua software, komputer Anda akan lebih "sehat", dan Anda juga akan mendapatkan fitur-fitur terbaru.
Saya mengkategorikan kebiasaan meng-Update semua software (atau minimal OS, anti-virus dan browser) sebagai salah satu Good Computing Practice atau cara berkomputer yang baik.

Tak hanya MS Windows, Linux dan Apple OS X juga memerlukan Update rutin. MS Windows bahkan mengeluarkan apa yang disebut Service Pack yang isinya sebagian besar kumpulan Update yang dikeluarkan selama periode tertentu.
Juga program anti-virus akan rutin meminta Update. Khusus untuk anti-virus, mereka memerlukan update relatif sering karena diseluruh dunia setiap hari selalu muncul virus-virus baru. Dengan update, program anti-virus dapat mengenali virus-virus baru itu dan tahu cara mengatasinya, kalau-kalau suatu saat ia harus berhadapan dengan virus itu.

Selain OS dan anti-virus, kini hampir semua software mempunyai fitur Update melalui internet. Biasanya ada di menu "Tools", "Help", atau "About". Terkadang cukup merepotkan juga, misalnya dikomputer saya, saya harus mengecek dan men-download update untuk Windows, AVG, SpyBot S&D, Mozilla Firefox (dan seluruh Add-On yang terinstall), Google Chrome, Opera, Mozilla Thunderbird, FileZilla, OpenOffice, GIMP, GnuCash, iTunes+QuickTime, ...hhh...(ambil napas) FreeDownloadManager, SyncBack, TrueCrypt, Samsung PC Studio, 7-zip, Foxit reader, K-Lite Mega Codec,.... hhhh..., Audacity, Skype, ...hhhhhh.... (ini baru satu komputer....)

PS: Banyak pengguna Windows bajakan yang mematikan fasilitas Windows Update, karena diantara sekian banyak update tersisip WGA (Windows Genuine Advantage) yang akan mengecek keaslian MS Windows. Cukup disayangkan karena berarti begitu banyak celah keamanan di komputer itu yang terbuka lebar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar