Senin, 28 April 2008

Please, backup dong!

Baru-baru ini salah seorang klien saya mengalami kerusakan harddisk data. Lebih dari 30 Gigabyte data dalam sekejap mata tidak dapat diakses, padahal beberapa diantaranya diperlukan hari itu juga. Dan ia juga tidak memiliki backup sama sekali.
(Pelu diketahui, proses recovery data bisa saja memakan waktu beberapa hari, bahkan minggu, tergantung besarnya data dan beratnya kerusakan. Apalagi biaya proses ini tergolong tinggi, lebih mahal ketimbang membeli harddisk baru)
Bayangkan jika ini terjadi pada Anda. Apa yang akan Anda lakukan? Kehilangan data bukan hanya sangat mengganggu bagi sebuah perusahaan, bagi pengguna personal pun dapat menjadi masalah besar. Koleksi foto digital liburan Anda sekeluarga ke Eropa bulan lalu tentu saja tidak dapat diulang kembali.



Kebanyakan kerusakan media harddisk terjadi dengan begitu saja. Tanpa tanda-tanda atau gejala yang signifikan, bisa saja harddisk mengalami kerusakan dan tidak dapat diakses sama sekali. Atau jika komputer tertular virus dan data penting Anda terhapus.
Cara paling jitu untuk menghadapi kemungkinan ini adalah dengan membuat backup data secara rutin. Yang disebut backup data adalah kopi atau duplikat data tersebut di tempat yang berbeda. Dengan begitu, seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada komputer, tidak seluruh data hilang, hanya pekerjaan sejak backup terakhir saja.

Untuk penggunaan personal, metoda paling sederhana adalah dengan mengkopi data Anda ke sebuah flashdisk setiap sore atau malam hari. Jika seandainya saja terjadi kerusakan, setidaknya Anda masih memiliki data hasil backup kemarin.

Untuk sebuah perusahaan, saya menganjurkan untuk membuat sebuah Standard Operating Procedure (SOP) yang mengharuskan operator komputer melakukan backup secara rutin setiap sore atau pagi hari pada sebuah external harddisk atau NAS (Network Attached Storage), dan satu atau dua minggu sekali dibuat backup terpisah pada keping CD atau DVD dan disimpan pada bangunan yang terpisah (biasanya dibawa pulang dan disimpan oleh manager). Ini mencegah kemungkinan data hasil backup juga rusak akibat force-majeur (kebakaran, banjir, rob, longsor, gempa, terorisme, kemalingan, kesiram air, kejatuhan palu, "gak sengaja" saya bawa pulang, dsb...)

Jika data yang di-backup sangat sensitif dan tidak boleh bocor ke orang lain, bisa saja metode backup dilakukan dengan tambahan enkripsi atau pengacakan data sehingga hanya dapat dibaca dengan password tertentu saja.
Untuk proses backup dapat saja dipakai program yang membackup data yang diinginkan secara otomatis pada jam yang ditentukan. Ini akan sangat membantu bagi orang-orang yang "saking sibuknya sering lupa makan, apalagi backup data". Program seperti itu banyak tersedia, beberapa diantaranya gratis.

Dari pengalaman, biasanya backup secara teratur akan terbengkalai setelah sekian lama rutin backup, tidak terjadi apa-apa. Baru setelah terjadi "bencana", arsip backup dibongkar dari tumpukan penuh debu dan baru terlihat bahwa backup terakhir dilakukan dua tahun yang lalu (ini true story juga lho!).

Jadi, mana yang Anda pilih, repot tiap hari mem-backup data, atau hidup dalam bayang-bayang kehilangan data dalam sekejap?


NB: program backup otomatis dan enkripsi (dan berbagai program bagus lainnya) dapat dicari di http://www.downloads.com
Favorit saya pribadi adalah SyncBack (http://www.2BrightSparks.com) dan TrueCrypt (http://www.truecrypt.org).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar